Hubungan antara pria dan wanita adalah hubungan yang kompleks. Namun bisa jadi sangat sederhana, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bayangkan suatu konsep dimana ada orang lain yang tiba2 menjadi bagian hidupmu. Seperti seorang teman yang tiba2 memutuskan berbagi kamar denganmu di apartemen. Kalian harus berbagi flat, televisi, dapur, meja makan, sofa, dsb. Slain itu kalian juga harus berbagi tagihan telfon, listrik, air, bahkan tagihan makan malam. Kesendirian yang kita alami selama ini pecah. Sekarang ada orang lain yang harus kita perhatikan selain diri kita sendiri. Orang lain yang mungkin selama ini sudah sangat kita kenal, tapi setelah berbagi semuanya, kita baru sadar bahwa kita tidak mengenalnya sama sekali. Lalu pertanyaannya, apakah sekarang kita sudah siap untuk memahami orang lain tersebut?
Hanya terdapat 2 pilihan jawaban: siap atau tidak? Apabila kita siap, maka kita akan menjalani hubungan yang penuh kompromi. Mencari titik temu dari setiap persoalan dan perbedaan pendapat. Mencoba saling memahami, mendengarkan dan didengarkan. Tetapi, apabila kita tidak siap menjalaninya, maka yang terjadi adalah konflik yang tiada henti, pertengakaran, egoisme yang makin besar setiap harinya.
Dalam kasus ini, saya mengalami persoalan yang kedua.

Saya tidak siap akan hal itu. Semua hanya karena egoisme tingkat tinggi yang bodoh. Tidak pernah mau mengerti dan mendengarkan. Tidak pernah mencoba merasakan apa yang ia rasakan. Dan kalau ini yang terjadi, maka sebuah hubungan tidak akan bertahan lama. Biasanya sih..
Tetapi, saya menemukan sesuatu yang menarik dari keadaan ini. Ketika semua sudah terasa tidak mungkin, ternyata salah satu pihak masih mempunyai akal sehat yang cukup untuk mengalah dan memaafkan. Mampu memecahkan apa yang saya sebut sebagai "uncomfortable Silence" diantara keduanya. Orang yang cukup sabar untuk mengerti dan memahami.
Terima kasih untuk semua kesabaran dan perhatianmu selama ini. Terima kasih karena cukup sabar dalam menghadapi keegoisanku. Terima kasih karena sudah mencoba memahami dan mengerti segala kecanggunganku selama ini. Mungkin bagimu ini hanyalah sebuah masalah kecil, tapi bagiku ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berarti.
Kamu adalah perwujudan Tessa-ku di dunia nyata. Terima kasih..