 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Khaled Hosseini |
Apa yang saya harapkan dari sebuah novel yang telah terjual sebanyak 8 juta kopi di seluruh dunia? Sebuah cerita yang akan saya ingat dalam beberapa bulan ke depan! Dan The Kite Runner benar-benar memberikannya! Kite berkisah mengenai dua orang anak Afganisthan yang bersahabat, Amir dan Hassan. Amir adalah anak seorang pengusaha kaya raya dan terpandang di Afganisthan sedangkan Hassan adalah anak dari pelayan di rumah Amir. Sebagaimana kedua orang tua mereka yang bersahabat sejak kecil, Amir dan Hassan pun menjalin persahabatan yang tak terpisahkan. Tetapi pada musim dingin tahun 1975, Amir menkhianati Hassan dan mencampakkan persahabatan mereka ke jalanan kota Kabul. Selama bertahun-tahun hal ini menghantui kehidupan Amir, bahkan ketika ia sudah menetap di Amerika. Hingga akhirnya datang suatu panggilan yang mneyebabkan Amir harus menginjakkan kembali kakinya di tanah Kabul yang telah porak-poranda karena perang. Dan saat kejadian di tahun 1975 itu kembali mewujud di depan matanya, Amir tahu kali ini dia takkan mengkhianati siapapun! Saya benar-benar terkesan dengan novel ini. Saya terpaku dan tidak bisa melepaskannya. Khaled bercerita mengenai persahabatan, kasih sayang, pengkhianatan, kehidupan, kematian, dan penebusan dengan indahnya. Dan sangat gamblang. Jaya dan hancurnya Afganisthan menjadi latar yang pas untuk kisah jatuh bangunnya seorang Amir. Indahnya persahabatan juga digambarkan dengan tepat dalam wujud Hassan sang Pengejar Layang-layang. Kita sah-sah saja untuk tidak setuju akan penggambaran Khaled terhadap perbuatan pejuang Taliban dan bagaimana Amerika digambarkan sebagai ”penyelamat”. Saya juga kurang puas dengan beberapa bagian saat cerita menuju akhir. Terlepas dari itu semua, novel ini mengajarkan saya bahwa ketulusan dan kasih sayang akan mengalahkan segala bentuk kejahatan di dunia, saat manusia menyadarinya. Great Novel! 
 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Mitch Albom |
For One More Day berkisah mengenai kehidupan Charles “Chick” Benetto. Saat masih anak-anak, Chick diberi pilihan oleh ayahnya: menjadi anak Papa atau anak Mama. Dia memilih pilihan yang pertama. Namun, setelah itu ayahnya tiba-tiba pergi meninggalkan keluarga mereka. Menyisakan kemarahan pada diri Chick karena harus menjadi anak Mama. Bertahun-tahun kemudian setelah kematian sang ibu, hidup Chick hancur dan menenggelamkannya dalam dunia alkohol. Setelah percobaan bunuh diri yang gagal, Chick menemukan sang ibu yang masih hidup menyambutnya pulang seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa! Seperti yang Mitch bilang, kisah keluarga adalah kisah hantu. Saya benci kisah hantu. Tetapi saya sangat suka novel ini. Jatuh cinta tepatnya. Jatuh cinta pada gaya penulisan Mitch yang sangat-sangat ringan dan hangat. Ceritanya mengalir bagai sebuah film indie berbujet rendah namun dengan cerita yang menyentuh. Saya sangat suka dengan selipan-selipan kisah Chick yang dibagi menjadi “Saat-saat Ketika Ibu Membelaku” dan “Saat-saat Ketika Aku Tidak Membela Ibu” di tengah-tengah penceritaan. Alih-alih mengganggu, kisah selipan itu menjadi penguat keseluruhan cerita. Sedikit kejutan di akhir pun melengkapi senyum kita saat menutup buku ini. Sebuah kisah kecil yang hangat. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Hehe..Saya baru nonton tadi malem..Itu pun karena demi menyambut hari perfilman nasional (cieee...)
Bo'ong ding, karena baru ada duit n waktu juga..
Pengennya baca novel dulu, tapi berhubung belum sempet juga, nonton dulu aja deh..
Ada teman saya yang bilang :"Belum baca novelnya? Mending nonton dulu deh, daripada kecewa." Hmmm, benarkah? Ternyata, saya tetap kecewa. Pada filmnya, bukan ceritanya. Ceritanya menurut saya sendiri, Subhanallah, indah. Bukan kisah-kisah orisinil malah. Ada kisah Nabi Yusuf a.s. yang dipenjara karena dituduh memperkosa, ada kisah Nabi Muhammad SAW yang menikah dengan wanita yang lebih berada daripada dia. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an tersebut dirangkai dengan begitu apik oleh Habiburrahman El-Shiraizy menjadi suatu cerita yang menggetarkan.
Sayangnya, eksekusinya kurang maksimal. Mungkin masalah dana dll bisa menjadi alasan. Tetapi, penceritaan yang kurang baik, akting Fedi Nuril yang "kosong", setting yang janggal, interpretasi isi novel yang kurang tepat, membuat AAC sangat lemah secara film. Banyak adegan yang membuat dahi berkerut karena kejanggalannya (terutama bagi yang belum membaca novelnya). Begitu pun filmnya secara keseluruhan, tidak lebih bagus dari FTV yang ada saat ini.
Terlepas dari itu semua, pemberian 3 bintang di atas lebih kepada keberanian sang filmmaker mengangkat novel ini ke layar lebar. Walaupun sekali lagi eksekusinya dirasa kurang tepat. Saya merinding melihat penggunaan simbol2 Kristiani yang begitu banyak di film ini. Karena pada akhirnya tokoh Maria berpindah agama menjadi Islam. Sudah siapkah masyarakat non-nuslim menerima hal tersebut?
Namun, sejauh ini, hampir tidak ada berita miring mengenai ceritanya (yang ada malah berita Fedi Nuril cinlok dengan Carrisa Putri). Dan semakin hari AAC makin kukuh menjadi film terlaris dalam sejarah perfilman Indonesia. Jadi, sekali lagi salut, dan maju terus film Indonesia! 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Saya kira karir Ben Affleck sudah habis..
Dan saya benar..
Dalam berakting mungkin.Tapi, dalam debut penyutradaraannya ini, Ben membuktikkan bahwa ia lebih baik berada di belakang layar daripada selalu dihujat saat berada di depannya..Film2 terakhirnya adalah kekecewaan besar (atau mungkin ga semengecawakan itu sih,saya menikmati Smokin' Aces)..
11 tahun lalu Ben bersama sahabatnya Matt Damon mendapat piala Oscar untuk skenario Good Will Hunting.Setelah itu dia berada di bawah bayang2 film itu,sayangnya.Sementara Matt melaju terus, Ben tidak banyak berpindah dari posisi semula.Hingga saat ini,saya kira karirnya di film sudah berakhir..
Sementara itu ada sang adik Cassey Affleck yang mencuat sejak menjadi anggota Danny Ocean dalam Ocens Eleven, muncul sebagai aktor watak baru dengan pilihan2 peran yang tepat dalam Lonesome Jim dan The Assasination Of Jesse James By The Coward Robert Ford yang menghadiahinya nominasi Oscar. Ketika karir keduanya tampak berjalan ke arah yang berbeda, film ini menyatukannya.
Gone Baby Gone diangkat dari novel berjudul sama karya penulis yag menghasilkan Mystic River-nya Clint Eastwood. Ben kembali menulis screenplaynya bersama co-writer Aaron Stockard. Selain Cassey, Ben juga merekrut aktor2 watak macam Morgan Freeman dan Ed Harris. Cerita berawal dari hilangnya seorang gadis cilik bernama Amanda yng diduga merupakan korban penculikan. Sang ibu menyewa seorang detektif swasta bernama Patrick Kenzie (Cassey) untuk mencari anaknya. Penyelidikannya membawa Patrick berurusan dengan sebuah jaringan peredaran narkoba yang membahayakan serta konflik dengan petugas senior polisi Remy Bressant (Harris) dan kepala pollisi Jack Doyle (Freeman). Ketika keadaan menjadi semakin rumit, Patrick menemukan kenyataan bahwa yang dia hadapi adalah sebuah kasus sederhana yang terjadi di depan batang hidungnya sendiri!
Dibanding cerita sejenis, Gone memiliki keunikan tersendiri. Kisah kucing2an detektif dan penjahat di sini tidak benar2 menghadirkan tokoh jahat dan baik. Yang ada hanyalah orang2 yang memiliki pandangan hidup yang berbeda dan berusaha mempertahankannya. Ketika Patrick brusaha mempertahankan prinsipnya, dia menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan dia harus menghadapinya, sesulit apa pun.
Cast yang hebat, jalinan cerita yang menarik, chemistry yang pas, salah satu film terbaik sepanjang tahun 2007 dan debut penyutradaraan yang menganggumkan! 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Mungkin terlalu bertele-tele dan mendayu-dayu untuk audience masa kini. Tapi cerita mengenai pria obsesif benama Charles Foster Kane ini begitu powerful dan megah pada masanya. Banyak yang bilang tokoh Kane terinspirasi dari William Randolph Hearst, raja surat kabar Amerika pada awal abad 20. Hearst pun secara pribadi menyatakan sangat membenci film ini. Tapi, menurut saya Kane adalah perwujudan ambisi dari Orson Welles sendiri yang menyutradarai, menulis, sekaligus memerankan sang tokoh utama, Charles Kane.
Memperkenalkan beberapa teknik baru dalam perfilman seperti "deep focus", yaitu teknik dimana memungkinkan objek di foreground, center dan background tetap terlihat fokus secara simultan. Terlepas dari pujian2 yang diberikan, Citizen Kane adalah film yang gagal di box-office dan selalu mendapat celaan saat namanya dibacakan sebagai nominasi dalam 9 kategori pada ajang Academy Awards. Tetapi itu tidak bisa menghentikannya menjadi Best Picture saat itu dan dipilih menjadi salah satu film terbaik yang pernah dibuat di kemudian hari.
Klasik.. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Pada tahun 1995 sebuah film mengenai sekelompok penjahat yang rencananya berantakan ini dirilis. Dibuat dengan budget minimal, film ini mendapat sambutan maksimal dari penonton maupun kritikus. Jalan ceritanya yang terkesan "biasa" saja, diakhiri dengan ending yang sangat twist sehingga tidak mungkin tidak ada yang merasa tertipu setelah menontonnya. Kabarnya cast2 yang bermain di dalamnya masih kebingungan menentukan siapa penjahat sebenarnya di film ini saat syuting telah selesai. Tidak heran para juri Oscar menghadiahkan piala untuk cerita orisinil terbaik. Sang filmmaker, Bryan Singer, pun terangkat namanya dan menjadi sutradara film2 blockbuster hingga saat ini. Itulah sekilas cerita tentang instant classic dari tahun 1995, The Usual Suspects. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Peter Jackson mempertaruhkan segalanya ketika memutuskan untuk memfilmkan trilogi novel karya J.R.R. Tolkien ini. Semua terbayar lunas oleh seri ketiga ini dimana seluruh crew dan cast yang luar biasa (Elijah Wood, Viggo Mortensen, Sir Ian McKellen, dan masih banyak lagi) mencurahkan segala kerja keras dan cintanya. Hasilnya: 11 piala Oscar menjadikan The Lord of The Rings sebagai epic fantasi terhebat yang pernah dibuat!
Semua menuju akhirnya pada seri ini. Gandalf dan Pippin menuju Gondor untuk meyakinkan raja Denethor untuk berperang melawan Sauron. Merry ikut bersama pasukan Rohan. Aragorn, Gimli dan Legolas mencari bala bantuan di lembah berhantu. Frodo dan Sam semakin mendekati Mount of Doom untuk menghancurkan cincin yang menjadi sumber masalah kisah ini.
Yang membuat saya sangat menyukai seri terakhir ini adalah bahwa ini merupakan akhir dari sebuah dongeng fantasi yang menakjubkan. Sejak Fellowship of The Ring dirilis pada tahun 2001, seluruh dunia terpana. Fantasi J.R.R. Tolkien divisualisasikan dengan sangat2 baik oleh Peter Jackson. Film itu pun dipuji kritikus sekaligus menaklukkan box-office. Adapun sekuelnya, The Two Towers, juga mendapat respon yang sangat baik dari kritikus dan penggemar, walaupun banyak yang bilang Towers tidak lebih dari sekedar film penghubung dan seri yang paling lemah daripada yang lain.
Tetapi itu menghalangi Rings mencapai puncaknya ketika The Return of The King dirilis. Selama 2 jam lebih penonton dibuat hampir tak berkedip menyaksikan jalan cerita dan scene per scene film ini. Catat: Adegan peperangan di Gondor, yang menyita 1 jam durasi film ini, mungkin adalah adegan peperangan termegah yang pernah dibuat. Pada akhirnya semua orang sepakat bahwa Rings adalah pencapaian terhebat Peter Jackson dalam karirnya, yang mungkin tak akan terulang lagi di masa depan. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Disebut-sebut memiliki ending tercerdas dalam sejarah film, The Shawsank Redemption dilecehkan dewan juri Oscar karena tak mendapat satu pun kemenangan dari 7 nominasi yang diperoleh. Tapi, tak menghalanginya untuk menjadi film terbaik sepanjang masa.
Ketika membuka situs Internet Movie Database, saya cukup heran ketika membaca mengenai 250 film terbaik sepanjang masa. Di situ The Shawsank Redemption menempati peringkat 2 di bawah The Godfather tetapi dengan nilai yang sama 9,1. Saya jadi bertanya-tanya, film apa ini??
Saya sempat mengira ini adalah film yang dibintangi Leonardo DiCaprio (yang pada akhirnya saya ketahui berjudul The Basketball Diaries), tapi, ketika membaca info mengenai film ini, saya menemukan kalau film ini ternyata berkisah tentang penjara dan tidak mengikusertakan orang bernama "DiCaprio". Dan, yang lebih heran lagi, ketika mencoba mencari VCD atau DVD-nya di berbagai rental, saya tidak pernah mendapatkannya. Begitu istimewanyakah film ini?
Beberapa tahun kemudian, rasa penasaran saya terjawab. Saya tanpa sengaja menemukan film ini di sebuah rental di daerah dekat kampus saya. Dan setelah menontonnya, saya menyesal sekalu. Bukan karena buruk, tapi karena, mengapa saya baru menontonnya sekarang! Saya merasa sudah menonton banyak film hebat dan bagus (kebanyakan karya Scorsese), tapi film ini mempunyai kelasnya tersendiri. Menyentuh dan inspirasional.
Diangkat dari novel karya Stephen King berjudul "Rita Hayworth and The Shawsank Redemption", film ini berkisah mengenai seorang bankir muda bernama Andy Dufrense (dimainkan dengan sangat baik oleh Tim Robbins) yang dihukum seumur hidup karena dituduh membunuh istrinya. Cerita pun difokuskan pada bagaimana Andy menghadapi kerasnya kehidupan penjara Shawsank dan persahabatannya dengan Red (Morgan Freeman yang menakjubkan) sesama napi di Shawsank. Saya tidak akan bercerita banyak mengenai jalan ceritanya. Semakin sedikit anda tahu, semakin nikmat anda menontonnya. Apalagi ditambah dengan endingya yang begitu mengesankan.
Yang saya garisbawahi dari film ini adalah penceritaannya yang sangat apik. Bisa jadi karena diangkat dari novel, maka sang filmmaker tidak perlu susah payah lagi dalam storytellingnya. Namun, gaya penyutradaraan Frank Darabont, yang memulai karir sebagai scriptwriter, memang patut diancungi jempol. Dia berhasil memadukan scene2 yang ada di The Shawsank dengan begitu baiknya, sehingga kita merasa terhanyut hingga akhir film. Uniknya, gaya narasi yang disuarakan oleh Morgan Freeman disebut Darabont sebagai "mencoba meniru Good Fellas" dengan hasil yang sama baiknya.
Tidak lupa kredit saya berikan juga untuk Tim Robbins dan Morgan Freeman yang pantas diberi gelar "best on-screen duo/team". Chemistry yang mereka tampilkan begitu baiknya sehingga memberi pelajaran masyarakat Amerika mengenai persahabatan antar ras yang mengharukan.
Akhir kata: Great cast, Great story, Great Movie! 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Pertama tahu tentang film ini ketika membaca salah satu artikel di sebuah majalah yang mengupas mengenai film. Dalam artikel berjudul "10 film mob terbaik" itu, Good Fellas berada di urutan ketiga (kalo saya tidak salah) di bawah The Untouchables. Saya tertarik ketika membaca kalimat terakhir dalam review mengenai film ini yang mengatakan "Beberapa kritikus berkata film ini sama bagusnya dengan The Godfather".
Terdorong rasa penasaran, akhirnya saya mencoba mencari film ini di sebuah rental video lokal terkemuka di kota saya (percayalah, rental ini mungkin yang terlengkap di Indonesia!). Tak terlalu sulit menemukannya diantara ratusan film yang ada`di sana, saya menemukan diri saya tidak terkesan dengan desain covernya yang biasa saja. Siapa Joe Pesci? Ray Liotta? Martin Scorsese?? Yang saya tahu di situ ada Robert De Niro yang memang sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya.
Diangkat dari novel buku karya Nicholas Pillegi berjudul "Wiseguy", Good Fellas bercerita mengenai pengalaman seorang anggota mafia bernama Henry Hill (diperankan oleh Liotta) selama bergabung dengan mafia pada umur belasan tahun hingga akhirnya berkhianat pada organisasi tersebut.
Filmnya sendiri dibuka dengan adegan kekerasan yang cukup "catchy" (melibatkan muka hancur penuh darah, bagasi mobil, pisau dan tembakan pistol, bayangkan saja sendiri!). Dari situ film kemudian berlanjut dengan pembukaan narasi selama 15 menit yang menceritakan awal perkenalan Henry dengan dunia hitam. Saya mencatat narasi pembukaan di film ini sebagai yang "paling hebat dan efektif yang pernah dibuat". Tapi, tidak berhenti di situ saja. Penggunaan narasi di sepanjang film ini begitu lincahnya hingga tanpa sadar membawa kita melewati durasi film yang cukup panjang.
Saat itu juga saya pertama kali berkenalan dengan Martin Scorsese. Jatuh cinta tepatnya. Gaya penyutradaraan yang provokatif dan dipenuhi violence memang dirasa tidak cocok untuk sebagian orang, namun saya menyukainya. Walau terkadang ada saat dimana saya merasa jengah sendiri akan kerealistisan yang ditampilkan.
Saya sudah menonton sebagaian besar karya Scorsese (Taxi Driver, Raging Bull, The Color of Money, After Hours, Mean Streets, The Age of Innocence, Gangs of New York, The Aviator, The Departed) tapi tak ada yang sebagus Good Fellas. Film ini merupakan puncak dari kecintaan Scorsese terhadap tema gangster dan kaum American-Ireland-Italian dimana Scorsese merupakan bagian darinya. Atau, film ini merupakan puncak kejeniusannya. 
| |