Ray Davies berdendang sambil menatap senja..

The Series

Akhir-akhir ini ada yang mengusik saya. Saya terusik mendengar kabar salah satu teman saya yang telah menjalin hubungan dengan kekasihnya selama bertahun-tahun, ternyata menyatakan cintanya pada wanita lain juga.

Kata CINTA. Semudah itukah diumbar? Yang saya tau saat seseorang berkata cinta pada orang lain, maka tak ada yang lebih dicintainya daripada orang itu. Dia akan siap menerima orang lain tersebut apa adanya, bersabar terhadap segala tingkah lakunya, memahami apa yang dirasakannya, bahkan salah satu teman saya pernah beradu fisik karena kata itu. Saat kata CINTA itu diucapkan, komitmen muncul. Aku cinta kamu, kamu cinta aku. Tak ada yang lain.

Saya cukup heran melihat orang yang dengan mudah berkata CINTA pada lebih dari satu orang. Tidak adakah yang spesial dari kata itu? Sesuatu yang membuat orang lain menjadi merasa spesial? Sesuatu yang membuat orang lain menjadi the only one? Atau memang kata itu hanya kedok untuk memenuhi nafsu memiliki dari seorang manusia? Entahlah. Mungkin anda lebih tahu daripada saya.

Kembali ke teman saya itu, saat saya tanya alasannya, dia hanya menjawab: ”yah, gw emang cinta dua-duanya”. Saya hanya tertegun mendengarnya.


Akhir2 ini saya banyak mengalami fluktuasi emosi. Hehe. Apalagi sejak Maroy meninggal. Jujur, saya tidak terlalu mengenal dia. Tapi, kematiannya yang tiba2 cukup membuat saya jadi lebih menghargai hidup ini. Oh My God, dia masih begitu muda. Seakan-akan baru kemarin sejak saya terakhir bertemu dia setahun yang lalu. Semoga arwahnya tenang di sisi-Nya.

    Kembali ke fluktuasi emosi yang saya alami tadi, dimulai sejak liburan kemarin. Begitu mendarat di bandara, saya langsung mendapat kabar gembira soal pernikahan mbak Nina. Tetapi perasaan gembira itu langsung berubah menjadi kesedihan saat mendengar cerita Mama soal keadaan Nenek dan Bulik saya di Kediri yang terkena diabetes. Setelah itu fluktuasi itu pun berjalan. Berlibur dengan senang, mendengar cerita Mama soal kesulitan keuangan yang sedang dihadapi keluarga, ketemu Tutu dan teman2 di Surabaya, mendengar kabar bapaknya Afton meninggal ketika baru tiba di Jakarta, menanti kelahiran anak pertama mbak Ratih 2 minggu lagi, mendapat undangan pernikahan Windu, mendapat kabar kang Restu operasi tumor di kepala (langsung teringat Maroy), dikabarin Tutu kalo dia sakit cukup parah, mendapat kabar operasi kang Restu berhasil, Scene dapet kamera, dapet uang saku dari kampus, langsung habis karena dipake membayar berbagai macam iuran (yang ini pantas ditertawakan. Hehe..).

Semua kejadian itu terjadi begitu cepat dan silih berganti. Membuat saya memikirkan kembali mengenai mendapatkan dan kehilangan. Dua sisi mata uang yang saling berdampingan. Di saat kita mendapatkan sesuatu, kita juga harus siap apabila suatu hari kehilangannya. That’s life. Dan manusia sehebat apa pun tidak akan punya kuasa atas itu. Yang bisa kita lakukan hanya bersyukur dan berlapang dada saat kedua hal itu terjadi. Karena semua hal yang kita punya saat ini, bukanlah benar2 milik kita. Dan saat itu semua direnggut dari kita, maka tak ada yang bisa kita lakukan. Pertanyaanya, sudahkah kita menyadarinya?

Ini saya baca dari salah satu blog. Dan saya tertarik mem-forwardnya. Silahkan dikomentari..

DEAR ALL

TOLONG
BACA DAN JANGAN COBA 2 IKUT WALAU PUN HANYA

Rp 2000, MAKANYA
BACA OK

Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah
seorang AFI (Akademi Fantasi
Indosiar). Selain lepas kangen (he..he) gw
juga dapat cerita seru dari
kehidupan mereka.

Di balik image mereka
yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di
teve, kehidupan artis AFI
sangat memprihatinkan.

Banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang
ratusan juta rupiah.
Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke sana-sini buat
menggenjot sms
putera-puteri
mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun
kemenangan AFI itu yang berasal
dari pilihan publik. Kemenangan mereka
ditentukan seberapa besar orang tua
mereka anggup menghabiskan uang untuk
sms. Orang tua Alfin dan Bojes abis 1
M. Namun mereka orang kaya, biarin
aja.

Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI 005) yang
tereliminasi di
minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia sekarang
hidup di sebuah
kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang sedikit mahal
RP 500..000.
Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi.
Kos itu
sederhana (masih bagusan kos gw gitu loh), bahkan kamar mandi pun di luar.
Makannya sekali sehari.
Makan dua kali sehari sudah mewah buat
Fibri. Kaga ada dugem dan kehidupan
glamor, lha makan aja susah.

Ada
banyak yang seperti Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll.

Mereka
teikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa cari job
di luar Indosiar. Bayaran di Indonesiar sangat kecil. Lagian
pembagian job
manggung sangat tidak adil. Beberapa artis AFI seperti Jovita
dan Pasya
kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang dapat job.
Maklum
artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja mereka susah.
Temen gw
malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. Minjemnya bahkan
cuma Rp
100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem banyak karena takut ga
bisa bayar.

Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi. Para orang tua
dan anak
Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di
televisi.
Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh
Indosiar. Namun tidak ada
jaminan hidup sama sekali.
Mereka hanya dibayar
kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak
menentu. Buruh pabrik yang
gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada
mereka.

Nah acara ini
dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu. Kasian
orang tua dan
anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti
ini.
Seorang
anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal
dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa
dia
akan
membuat orang tuanya punya utang yang melilit pinggang, yang
tidak akan
terbayar sampai kontraknya habis.

JUDI SMS
MENGGILAAAA ......

Tiap
stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan.
Tengok saja
misalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, Putri
Cantrik,
dsb.
Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan mencari bibit penyanyi
terbaik.
Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS
premium.

Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum
--
setidaknya
sampai saat ini. Mari kita hitung. Satu kali kirim
SMS
iayanya --anggaplah- - Rp 2000.
Uang dua ribu rupiah ini sekitar
60% untuk penyelenggara SMS Center
(Satelindo, Telkomsel, dsb).
Sisanya
yang 40% untuk "bandar" (penyelenggara) SMS.
Siapa saja bisa jadi bandar,
asal punya modal untuk sewa server yang
terhubung ke
Internet nonstop 24
jam per hari dan membuat program aplikasinya.
Jika dari satu SMS ini "bandar"
mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka
jika yang mengirimkan sebanyak 5%
saja dari total penduduk Indonesia (Coba
anda hitung, dari 100 orang kawan
anda, berapa yang punya handphone?
Saya yakin lebih dari 40%), maka bandar
ini bisa meraup uang sebanyak
Rp 80.000.000.000 (baca: Delapan puluh milyar
rupiah)..
Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah ? rumah senilai 1 milyar, itu
artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnya
sebagai "biaya promosi"!
Dan ingat, satu orang biasanya tidak
mengirimkan SMS hanya sekali.
Masyarakat diminta mengirimkan SMS
sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak
tersisih, dan "siapa tahu" mendapat
hadiah.
Kata "siapa tahu" adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan
pulsa
handphone.
Pulsa ini dibeli pakai uang.
Artinya : Kuis SMS adalah
100% judi.

Begitu menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai Nutrisari
membuat iklan yang
saya pikir menyesatkan.
Pemirsa televisi diminta
menebak, "buka" atau "sahur", lalu jawabannya
dikirim via SMS.
Ada
embel-embel gratis.
Ada kata, "dapatkan handphone... " Saya bilang ini
menyesatkan, karena
pemirsa televisi bisa menyangka :
"Dengan mengirimkan
SMS ke nomor sekian yang gratis (toll free), saya bisa
mendapat handphone
gratis".

Kondisi ini sudah sangat menyedihkan.
Bahkan sangat
gawat.
Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB.
Jika dulu, orang untuk
bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman
jahiliyah orang berjudi
dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi,
hanya dengan beberapa ketukan
jari di pesawat handphone!
.
Tolong bantu sebarkan kampanye anti judi SMS
ini.
Tanpa bantuan anda, kampanye ini akan meredup dan sia-sia
belaka

Orang itu meregang nyawa di pos satpam kompleks saya..Sungguh menyedihkan.Mengerikan tepatnya..

Saya tidak ada saat kejadian itu berlangsung.Saya hanya mendengar cerita yang simpang siur dari pembantu saya, anak2 muda yang tinggal di kompleks itu, dan teman sekontrakan saya yang mendengar dari temannya..

Tidak ada cerita yang pasti.Yang pasti,orang itu mati.Dan dia mati karena diteriaki maling sehingga dihakimi massa..

Beberapa hari kemudian saya mendengar kabar bahwa orang itu salah tangkap..

Saya bergidik..Ngeri membayangkan apa yang orang2 kompleks saya lakukan..Ini masalah hidup mati orang..

Jadi teringat kata2 salah satu anak muda yang tinggal di kompleks itu:"Orang2 kompleks sini emang aneh mas. Ga tua, ga muda,kalo dah kayak gitu,maen gebuk aja dah.Untung ga dibakar kemarin itu.."

saya hanya tertegun..

"Wah, harus dioperasi lagi nih"

Apa??!!

Oke, ini cuma operasi kecil dan rasa sakitnya ga sebanding sama ibu yang melahirkan..

tapi, please?!! ini belum sebulan dari operasi yang pertama?! Masa' harus dioperasi lagi?!

Penyakit bernama Mata Ikan itu memang menyebalkan. Untung kalo di bagian atas kaki, tapi kalo di telapak kaki?! sungguh menyakitkan..

rasanya baru kemarin deh ke klinik itu. Rekomendasi dari teman saya yang bilang:"Murah tapi ampuh"..dan setelah melalui setengah jam operasi dan seminggu berjalan dalam keadaan terpincang-pincang, saya kira ini semua sudah berakhir..tapi saya salah..

bukannya sembuh, penyakit itu muncul lagi dan lebih sakit dari sebelumnya! apakah ini malpraktek??saya beranikan diri kembali ke klinik itu untuk mendapatkan vonis yang sama:"Harus dioperasi lagi"

oke..saya mungkin membuat kesalahan..tapi,dokter yang ini terlihat lebih bisa dipercaya (karena masalah biaya juga), jadi saya biarkan sekali lagi pisau operasi itu membedah kaki saya..

semoga cepat sembuh..

huhuww..

akibat hujan yang terus-menerus seminggu ini..blum lagi hawa Jakarta yang fluktuatif (kadang dimgin, kadang tidak)..di saat pagi bisa lebih dingin dari tawangmangu (coba deh tanya roomate saya yang asli tawangmangu)..

kalo dah gitu,tersiksa banget..tulang serasa ditusuk2..hidung mampet..kepala nyut2an..terjaga hingga pagi (insomnia!)..

padahal baru sembuh dari darah rendah+migrain..mata ikan di kaki juga baru dioperasi..

tapi koq..kena flu berat lagi..bekas operasi yang dah kering terasa sakit lagi (lebih dari sebelumnya malah)..

brusaha berpikir positif..dibalik kesakitan pasti ada kesembuhan..sabar,sabar..

Satu Desember sudah lewat. Tapi, apa yang saya dapat dari hari itu masih terngiang hingga sekarang. Bagaimana dalam sekejap hidupmu yang nyaris sempurna menghilang tanpa bekas.Orang2 yang kamu sayangi, orang2 yang kamu kira menyayangimu, menghilang satu per satu. Ini adalah satu kisah yang terekam dari acara peringatan hari AIDS internasional kemarin.

    Seorang pria yang sudah berkeluarga dan hidup mapan, mengalami kecelakaan. Transfusi darah pun harus dilakukan. Pria itu selamat, semua berkat transfusi darah yang tepat waktu. Namun, kemudian diketahui, bahwa darah itu mengandung virus HIV/AIDS. Dalam sekejap, semua berubah. Saat ia memberitahukan hal itu ke istrinya, ternyata istrinya tidak bisa menerimanya. Akhirnya, dengan berat hati ia menceraikan sang istri dan menikahkannya dengan adiknya sendiri. Belum berhenti sampai di situ, ternyata penolakan juga datang dari teman2, sahabat2 bahkan sanak keluarganya.

    Setelah mengalami pergulatan batin selama beberapa waktu, akhirnya ia memutuskan untuk mendedikasikan sisa hidupnya untuk menjadi relawan HIV/AIDS. Ia menjadi pembicara dalam seminar2 mengenai HIV/AIDS dan menjadi relawan untuk menolong korban2 HIV/AIDS lainnya. Tapi, karena kesepian dan kesedihan yang berkepanjangan, akhirnya, tidak sampai 2 tahun, ia kalah oleh AIDS dan meninggal. Ironisnya, yang mendampingi dia hingga pemakaman, tidak lain, adalah saudara2nya sesama pengidap HIV/AIDS serta relawan2 lainnya. Sanak keluarga, sahabat bahkan anak istrinya tidak ada yang datang. Yang lebih menyedihkan lagi, hingga saat ini dirinya seakan-akan dihapuskan dari daftar anggota keluarga. Sangat mengiris hati.

    Lalu pelajaran apa yang bisa saya ambil dari kasus ini. Apakah arti teman sejati? Sahabat? Orang yang kita sayangi? Apakah itu hanya berlaku untuk orang2 yang dapat merasakan penderitaan kita? Orang2 yang mengalami penderitaan itu juga? Lalu kemana mereka yang mengaku sahabat atau orang yang menyayangi kita di saat kita sehat, berada, sukses, tetapi menghilang di saat kita mendapat kesulitan atau penyakit berat seperti HiV/AIDS tadi? Apakah pantas kita dihukum seberat itu karena kemalangan kita? Setiap orang akan mengemukakan pendapat yang berbeda-beda tentunya, tetapi saya pribadi akan berkata:TIDAK! Apa yang terjadi di masa lalu, biarlah tetap ada di sana. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapi hari depan. Saya percaya setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, ketiga, keempat, atau kelima jika perlu. Karena hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai manusia. Memberikan kesempatan. Pada akhirnya apa yang kita terima dari orang lain akan berkurang dan menghilang sewaktu-waktu. Tetapi, apa yang kita berikan pada orang lain akan selalu mempunyai arti bukan hanya pada orang yang kita bantu, tapi juga pada diri pribadi kita sebagai manusia. Manusia yang mampu memberikan kontribusi kebaikan pada dunia ini, walaupun hanya sedikit.           

     Hubungan antara pria dan wanita adalah hubungan yang kompleks. Namun bisa jadi sangat sederhana, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bayangkan suatu konsep dimana ada orang lain yang tiba2 menjadi bagian hidupmu. Seperti seorang teman yang tiba2 memutuskan berbagi kamar denganmu di apartemen. Kalian harus berbagi flat, televisi, dapur, meja makan, sofa, dsb. Slain itu kalian juga harus berbagi tagihan telfon, listrik, air, bahkan tagihan makan malam. Kesendirian yang kita alami selama ini pecah. Sekarang ada orang lain yang harus kita perhatikan selain diri kita sendiri. Orang lain yang mungkin selama ini sudah sangat kita kenal, tapi setelah berbagi semuanya, kita baru sadar bahwa kita tidak mengenalnya sama sekali. Lalu pertanyaannya, apakah sekarang kita sudah siap untuk memahami orang lain tersebut?

    
    Hanya terdapat 2 pilihan jawaban: siap atau tidak? Apabila kita siap, maka kita akan menjalani hubungan yang penuh kompromi. Mencari titik temu dari setiap persoalan dan perbedaan pendapat. Mencoba saling memahami, mendengarkan dan didengarkan. Tetapi, apabila kita tidak siap menjalaninya, maka yang terjadi adalah konflik yang tiada henti, pertengakaran, egoisme yang makin besar setiap harinya.

    Dalam kasus ini, saya mengalami persoalan yang kedua. Saya tidak siap akan hal itu. Semua hanya karena egoisme tingkat tinggi yang bodoh. Tidak pernah mau mengerti dan mendengarkan. Tidak pernah mencoba merasakan apa yang ia rasakan. Dan kalau ini yang terjadi, maka sebuah hubungan tidak akan bertahan lama. Biasanya sih..

    Tetapi, saya menemukan sesuatu yang menarik dari keadaan ini. Ketika semua sudah terasa tidak mungkin, ternyata salah satu pihak masih mempunyai akal sehat yang cukup untuk mengalah dan memaafkan. Mampu memecahkan apa yang saya sebut sebagai "uncomfortable Silence" diantara keduanya. Orang yang cukup sabar untuk mengerti dan memahami.

    Terima kasih untuk semua kesabaran dan perhatianmu selama ini. Terima kasih karena cukup sabar dalam menghadapi keegoisanku. Terima kasih karena sudah mencoba memahami dan mengerti segala kecanggunganku selama ini. Mungkin bagimu ini hanyalah sebuah masalah kecil, tapi bagiku ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berarti.

    Kamu adalah perwujudan Tessa-ku di dunia nyata. Terima kasih..   

    Suatu hari saat melihat berita mengenai ditangkapnya kembali Roy Marten dalam kasus narkoba, saya langsung teringat mengenai pepatah lama dalam buku2 pelajaran Sekolah Dasar:"Hanya Keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali".

    Ya, saya dan teman2 saya menyamakan Roy dengan Keledai. Bukan hanya karena jatuhnya dia di lubang yang sama dua kali, tapi juga karena "bermuka dua" di depan publik. Selama seminggu kemudian, joke2 yang kami buat pun tidak pernah lepas dari Roy dan si Keledai. Kami berimajinasi bahwa si Keledai pasti sedang menikmati liburannya dengan tenang karena tempatnya di buku peribahasa sudah digantikan oleh Roy.

    Tapi, entah kenapa, kemarin saya tersadar oleh sesuatu. Saya ingat saya pernah berjanji pada teman saya Betty, bahwa saya akan belajar minimal 1 jam sehari tiap harinya dalam satu semester. Saya tidak pernah menepatinya. Dan tiap semester hal itu selalu terulang. Akhirnya tetap saja nilai2 saya tidak pernah beranjak dari "sekedarnya".

    Lalu, apa bedanya saya dengan Roy? Selalu jatuh di lubang yang sama dan bermuka dua karena selalu berjanji tapi tak pernah ditepati. Saya akhirnya menemukan kenyataan pahit bahwa saya mungkin lebih buruk dari Roy! Oh, saya jadi malu pada si Keledai yang mungkin sekarang sedang menertawakan saya...

    Beberapa minggu yang lalu akhirnya kesampaian juga menonton salah satu band favorit saya, Mocca. Acara yang digelar dalam rangka meresmikan fans club Mocca ini bertempat di Hey Folks!, sebuah distro milik band indie pop asal Jakarta Ballads of The Cliche.

    Setelah mengeluarkan 2 album dan 1 mini album soundtrack, Mocca kembali ke akar bermusik seperti di awal2 karirnya. Album Colours terdengar seperti Dear Diary versi lebih matang. Lagu2nya terdengar begitu santai dan ceria. Sepertinya Mocca memang telah mencapai tingkat kedewasaan yang melebihi album2 sebelumnya.

    Sore itu hujan mengguyur kota Jakarta (ciledug dan sekitarnya tepatnya). Sempet khawatir pertunjukan malam itu akan dibatalkan. Alhamdulillah, begitu Maghrib hujan pun mereda. Tepat pukul 7 malam, Vano ma Adel dah datang di kosan. Total 5 orang (saya, Damar, Abe, Adel ma Vano) memenuhi KIA Visto yang mungil itu. Setelah setengah jam perjalanan, sampai juga di Majestik. Di halaman depan Hey Folks! sudah dipenuhi para penggemar. Tampak persiapan masih dilakukan di panggung kecil yang telah disiapkan. Persiapan terlambat dilakukan karena tampaknya menunggu hujan benar2 reda.

    Beberapa menit kemudian, persiapan selesai dilakukan. Pertunjukan malam itu dibuka oleh band tuan rumah yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ballads of The Cliche. Sudah cukup lama ga melihat mereka main live sejak di Eastern Promise beberapa waktu silam (jadi inget Mbak Tinta). Ballads yang baru aja ngeluarin album berjudul Evergreen kayaknya bener2 memanfaatkan malam itu untuk mempromosikan materi2 yang ada di album baru mereka. Tapi, entah kenapa, materi2 baru itu tidak terlalu menggembirakan. Cenderung membosankan. Tidak ada lagu yang benar2 meracuni telinga macam Jennifer Love Hewitt atau Love Parade (dua lagu yang tidak dimainkan sama sekali malam itu. Sayang sekali..). Yang saya tunggu dari Ballads pada akhirnya adalah kapan mereka turun dari panggung.

    Syukurnya, perhatian saya teralihkan dengan datangnya mbak Icha. Waaa, dah lama ga ketemu, eh sekarang mbak Icha udah ngelanjutin kuliah di UI. Senangnya..jadi ga sabar pengen cepet2 lulus. Ada satu kejutan lagi: ada Abud, Wisnu ma temen2 dari BSI! Ga surprise2 amat sih, secara mereka emang rajin dateng ke gig2 kayak gini (coba tanya Azis si MC, Abud cuma kalah tenar dari mas Doddy Breaker yang emang ga pernah absen nonton gig). Yang bikin penasaran malah si Wisnu. Kabar punya kabur berkata video klip Gegabah bwat single Wulan yang dia bikin jadi clip of the month di Dem-O. Ohohohwow! Bahkan Cinda sendiri belum nonton videonya. Hahahaha...

    Kembali ke panggung, akhirnya Ballads turun. Set pun disiapkan bwat Mocca. Sebelumnya ada pemutaran video secret gig mereka bersama sejumlah fans terpilih beberapa minggu sebelumnya. Beberapa saat kemudian, Mocca pun naik ke atas panggung! Wow, Arina tampak begitu manis dan ceria. Kontras dengan dinginnya udara malam itu. Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya pertunjukan pun dimulai. Saya tidak ingat set list yang mereka mainkan, tapi yang pasti Do What You Want to Do dan I Can't Believe jadi puncak penampilan mereka malam itu. Sebuah penampilan yang sempurna dari Mocca. Bahkan Adel yang sebelumnya hanya mengenal ST12 dan Kangen, sekarang menjadi penggemar Mocca. Dan pada akhirnya semua bahagia...   

memulai sesutau yang baru di tempat baru...

terasa menyenangkan..

semoga ini yang terakhir..

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help